Sabtu, 21 November 2020

ANTIHISTAMIN (I)

                                                                  ANTIHISTAMIN

Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada reseptor H1,H2,dan H3. Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Zat histamin berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan memblok reseptor histamin.

Berikut Struktur senyawa antihistamin :


Adapun jenis-jenis obat histamin dari perbedaan generasi yaitu :

 Generasi 1   
 Antihistamin generasi pertama ini mudah didapat,baik dalam  sebagai obat tunggal ataupun dalam bentukkombinasi dengan obat dekongestan. Misalnya untuk dalam pengobatan influensa terdapat obat seperti :

  • Klorfeniramine
  • Difenhidramine
  • Prometazin
  • Hidroksisin
Pada umumnya obat antihistamin generasi pertama mempunyai efektifitas yang serupa bila digunakan sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan dapat dibedakan dengan gambaran efek samping nya. Efek yang dapat ditimbulkan dari obat ini adalah rasa mengantuk sehingga dapat menganggu aktifitas,efek sedatif ini diakibatkan oleh antihistamin genrasi pertama memiliki sifat lipofilik yang dapat menembus sawar darah otak sehingga dapat menempel pada reseptor H1 di sel-sel otak. Disamping itu beberapa histamin mempunyai efek samping seperti mulut menjadi kering,penglihatan berkabut,dan retensi urin.

Generasi 2

Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti genrasi pertama,memiliki sifat lipofilik yang lebih rendah sulit menembus sawar darah otak. Obat antihistamin generasi kedua yaitu :

  • Astemizol ( Hismanal )
  • Loratidin ( Claritin )
  • Cetirizin ( Ryzen )
  • Fexofenadine
  • Terfenadin
Obat antistamin genrasi kedua ditoleransi sangat baik untuk dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk meringankan gejala alergi sepanjang hari,terutama untuk penderita alergi yang tergantung pada musim. Obat ini juga bisa digunakan untuk pengobatan jangka panjang pada penyakit kronis sepertiasma bronkial,

Generasi 3

Obat-obat yang termasuk antihistamin generasi ketiga yaitu :

  • Feksofenadin
  • Norastemizole
  • Deskarboetoksi loratadin (DCL)
Antihistamin generasi tiga bertujuan untuk menyederhanakan farmakokinetik dan metabolisme serta menghindari efek samping yang berkaitan dengan obat sebelumnya.


Berdasarkan Hambatan pada reseptor antihistamin dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Antagonis H1
  2. Antagonis H2
  3. Antagonis H3
Antagonis H1 atau antihistamin dibagi menjadi 3 yaitu :

  • generasi 1 : Etanolamin,Alkilamin,Piperaziin,Etilendiamin ,dan Fenotiazin. Obat-obat pada generasi ini dapat menembus sawar darah otak dan bersifat sedatif dan antimuskarinik
  • generasi 2 : Piperidin,Alkilamin,Piperazin. Obat-obat tersebut tidak dapat menembus sawar darah otak dan non sedatif
  • generasi 3 : Desloratidin,Feksofenadin,dan Levocetirizin.
Mekanisme kerja dari antagonis H1 yaitu mengantagonis H1 secara kompetitif dan reversibel,tetapi tidak memblok pelepasan histamin. Sering digunakan untuk mengobati gejala-gejala akibat reaksi alergi.

Antagonis H2

Antagonis H2 dapat mengontrol asam lambung secara fisiologis dan lebih hidrofilik dari H1 dan mencapai SSP. Mekanisme kerja dari antagonis H2 yaitu dengan cara :

  • Menghambat interaksi histamin dengan reseptor H2 
  • mengurangi sekresi asam lambung,histamin ,gastrin,kolinomimeik (AINS),rangsangan vagal.
  • mengurangi sekresi asam nokturnal dan basal
  • mengurangi volume cairan lambung dan ion H+
Digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobatan penderita pada tukak lambung serta dapat dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer, Contoh obatnya yaitu :

  • simetidina
  • famotidina
  • ranitidina
  • nizatidina
  • roxatidina
  • lafutidina
Antagonis H3

Antagonis H3 ini sampai sekarang masih belum digunakan untuk pengobatan,masih dalm penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan kardiovaskuler,pengobatan alergi dan kelainan mental. Adapun contoh obat dari Antagonis H3 yaitu :

  • Ciproxifan
  • Cleobenpropit   
FARMAKOKINETIK
Antagonis H1 biasanya terserap dengan baik disaluran pencernaan. Setelah pemberian oral,kadar plasma plasma mencapai puncaknya dalam 2-3 jam, dan efeknya berlangsung selama 4-6 jam. Namun berapa obat bertahan lebih lama,seperti clemastine,cetirizine,terbenadine (12-24 jam),dan astemizol 24 jam. Penelitian mendalam tentang obat generasi pertama masih terbatas. Konsentrasi tertinngi diphenhydramine oral dalam darah adalah sekitar 2 jam, dan waktu paruh adalah 4 jam. Obat ini didistribusikan secara luas,termasuk di sitem saraf pusat,dan ditemukan dalam jumlah kecil di urin sebagai metabolit. Penghapusan obat ini pada anak-anak berlangsung cepat dan dapat menyebabkan enzim mikrosom hati. Ini juga tampaknya sama dengan obat generasi pertama lainnya.

INDIKASI KLINIK
Penggunaan antihistamin dapat diberikan pada pasien dengan gejala atau indikasi media sebagai berikut :
1. Reaksi Alergi
2. Antiemetik
3. Motion Sickness
4. Anestesi Lokal

Pertanyaan :

 

1. Apa perbedaan dari Antihistamin generasi 1 dengan generasi 2 ?

 

2. Bagaimana cara kerja Antihistamin ?

 

3. Pengelompokan Antagonis H1,H2,dan H3 berdasarkan apa ?



                                                            Daftar Pustaka
 
Ganiswara SG.1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Hal.103.Bagian Farmakologi FKUI,Jakarta.

Lisni,I.,A,Anggriani dan R,Puspitasari.2020. Kajian Peresepan Obat Antihistamin Pada Pasien Rawat Jalan Di Salah Satu Rumah Sakit Di Bandung. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia. Vol 2(2).

Sari,F.,Yenny,SW.2018.Antihistamin Terbaru Dibidang Dermatologi. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol.7.



32 komentar:

  1. Terima kasih ilmunya, sangat bermanfaat😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih juga sudah mengunjungi blog ini☺️

      Hapus
    2. Terimakasih juga sudah mengunjungi blog ini☺️

      Hapus

  2. Wah terimakasih ilmunya sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama,terimakasih jg sudah mengunjungi blog ini

      Hapus
  3. Izin menjawab pertanyaan no. 1 Aulia Yerdi Utami
    Apa perbedaan dari Antihistamin generasi 1 dengan generasi 2 ?
    Berdasarkan literatur yang saya baca dimana Antihistamin generasi 1 ( H1 bloker )berfungsi untuk migrasi sel, nosisepsi, vasodilatasi, dan bronkokonstriksi. Obat-obatan golongan ini memang umum digunakkan sebagai obat-obatan antialergi

    Sedangkan antihistamin generasi 2 (H2 bloker) berfungsi untuk mengatur sekresi asam lambung, produksi mukus pada saluran pernapasan dan juga untuk mengatur permeabilitas vaskular.

    Sumber : Siswandono. 2016. Kimia Medisinal 2 Edisi 2. Airlangga University Press, Surabaya

    Terimakasih semoga membantu.

    BalasHapus
  4. Informasinya bermanfaat nih..jadi lebih tau ttg histamin 👍

    BalasHapus
  5. Terimakasih, ilmunya sangat bermanfaat🙏🏻

    BalasHapus
  6. Wah dapat ilmu baru ttg antihistamin hari ini, makasih ya!^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah,sama sama semoga bermanfaat yaa☺️

      Hapus
  7. assalamualaikum izin saya ingin menjawab pertanyaan saudari aulia tentang antihistamin
    1. perbedaan dari antihistamin generasi 1 dan 2 yaitu :
    - antihistamin generasi 1bersifat sedative sehingga dapat menembus ke dalam otak sehingga menyebabkan sedasi, mengantuk, kelelahan dan gangguan konsentrasi dan ingatankarenaselektivitas reseptor buruk dan sering berinteraksi dengan reseptor biologikamina lainnya yang menyebabkan efek antimuskarinik, anti-adrenergik, dan antiserotonin. yang menyebabkan efek merugikan pada prosesbelajarpada anak-anak
    - antihistamin generasi 2 tidak bersifat sedaitve sehingga tidak menimbulkan efek samping yang terlalu berbahaya bagi anak-anak dan orang dewasa
    sumber (Agustini, T dan W.farid.2013.PENGHAMBATAN PEMBENTUKAN HISTAMIN. jurnal JPHPI.Vol 6(2).

    2. Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Zat histamin, pada dasarnya berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh
    (Fajar Arifin Gunawijaya. 2001. Manfaat Penggunaan Antihistamin Generasi Ketiga. Jurnal Kedokteran Trisakti, 3 (20): 124-129.)

    3. pengelompokan dari antagonis reseptor baik itu h1,h2 dan h3 di bedakan berdasarkan aktifitas biologisnya terhadap reseptor yang masing-masing antagonis memiliki spesifikasi terhadap reseptor tersendiri untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan histamin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pran sudah membantu menjawab pertanyaan nya☺️

      Hapus
  8. Terimakasih, pembahasannya sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  9. Perkenalkan saya maya arsita (f1f118008). Akan menjawab pertanyaan no.2
    Antihistamin merupakan inhibitor kompetitif terhadap
    histamin. Antihistamin dan histamin berlomba menempati
    reseptor yang sama. Blokade reseptor oleh antagonis H1
    menghambat terikatnya histamin pada reseptor sehingga menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih maya udah membantu menjawab,sangat membantu dan bisa dimengerti dan dipahami

      Hapus
  10. Izin menjawab soal nomor 2🙏Yang saya ketahui,Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Sebenarnya zat histamin berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh.Sekian terima kasih😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih vioo udah membantu menjawab,sangat membantu dan bisa dimengerti dan dipahami

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. Hallo Aulia, saya Anisya Persi saya ingin membantu menjawab pertanyaan pada nomor 3. Menurut pemahaman saya dan beberapa literatur yang saya baca pembagian reseptor H1, H2, H3, dan H4 itu berdasarkan lokasi/tempat obat antihistamin tersebut bekerja
    Terima kasih, semoga membantu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih anisya persi udah membantu menjawab,sangat membantu dan bisa dimengerti dan dipahami

      Hapus
  13. Sangat membantu sekaleee

    Terimakasih kakak aul:))

    BalasHapus
  14. Bermanfaat sekali ilmu nya kakak 😀😃

    BalasHapus
  15. Bermanfaat sekali ilmu nya kakak 😀😃

    BalasHapus
  16. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus

RHEUMATOID ARTHRITIS

  Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyebab paling umum dari peradangan sendi kronis. RA adalah penyakit inflamasi autoimun kronis, progresi...