Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyebab paling umum dari peradangan
sendi kronis. RA adalah penyakit inflamasi autoimun kronis, progresif, dan
sistemik yang mempengaruhi banyak jaringan dan organ, tetapi terutama merusak
sendi sinovial. Proses inflamasi ini menghasilkan respon inflamasi (sinovitis)
dari sinovium, menyebabkan proliferasi sel sinovial, produksi cairan sinovial
yang berlebihan, dan pembentukan pembuluh darah a di sinovium. Proses inflamasi
ini biasanya menyebabkan kerusakan pada tulang rawan artikular dan sendi
pergelangan kaki. Gambaran yang paling umum adalah poliartritis dan
tenosinovitis simetris, kaku di pagi hari, peningkatan ESR, dan autoantibodi
terhadap imunoglobulin (faktor rheumatoid) dalam serum.
1. Rheumatoid
Arthritis
merupakan penyakit Autoimun progresif
dengan inflamasi kronik yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat
melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan, yang ditandai dengan
pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi jaringan sinovial yang disertai
gangguan pergerakan diikuti dengan kematian prematur.
Sel B,
sel T, dan sitokin pro inflamasi berperan penting dalam patofisiologi RA. Hal
ini terjadi karena hasil diferensiasi dari sel T merangsang pembentukan IL-17,
yaitu sitokin yang merangsang terjadinya sinovitis. Sinovitis adalah peradangan
pada membran sinovial, jaringan yang melapisi dan melindungi sendi. Sedangkan
sel B berperan melalui pembentukan antibodi, mengikat patogen, kemudian
menghancurkannya. Kerusakan sendi diawali dengan reaksi inflamasi dan
pembentukan pembuluh darah baru pada membran sinovial. Kejadian tersebut
menyebabkan terbentuknya pannus, yaitu jaringan granulasi yang terdiri dari sel
fibroblas yang berproliferasi, mikrovaskular dan berbagai jenis sel radang.
Pannus tersebut dapat mendestruksi tulang, melalui enzim yang dibentuk oleh
sinoviosit dan kondrosit yang menyerang kartilago. Di samping proses lokal
tersebut, dapat juga terjadi proses sistemik. Salah satu reaksi sistemik yang
terjadi ialah pembentukan protein fase akut (CRP), anemia akibat penyakit
kronis, penyakit jantung dan osteoporosis.
Etiologi
Penyebab RA sampai saat ini belum diketahui secara
pasti. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab RA antara lain : (1) Faktor
genetik; (2) Reaksi inflamasi pada sendi dan selubung tendon; (3) Faktor
rheumatoid; (4) Sinovitis kronik dan destruksi sendi; (5) Gender; (6) Infeksi.
Patologi
RA adalah penyakit sistemik,namun karakteristik
lesi terlihat pada sinovium atau dalam nodul rheumatoid. Sinovium dipenuhi
pembuluh-pembuluh darah baru dan sel-sel inflamasi.
Diagnosis Rheumatoid Arthritis
Diagnosis
rheumatoid arthritis didasarkan pada anamnesis tampilan klasik berupa kekakuan,
nyeri, serta bengkak pada sendi. Pemeriksaan fisik yang ditemukan khas pada
rheumatoid arthritis adalah pembengkakan sendi yang simetris dengan konsistensi
kenyal dan spongy. Pemeriksaan penunjang yang membantu
dalam diagnosis rheumatoid arthritis meliputi hasil laboratorium seperti faktor
rheumatoid dan penanda inflamasi, serta pemeriksaan radiologi yang menunjukkan
sinovitis dan erosi periartikular.
|
OBAT |
ONSET |
DOSIS |
KETERANGAN |
|
Sulfasalazin |
1-2
bulan |
1x500mg/hari/io
ditingkatkan setiap minggu hingga 4x500mg/hari |
Digunakan
sebagai lini pertama |
|
Metotreksat |
1-2
bulan |
Dosis
awal 7,5-10 mg/ minggu/IV atau peroral 12,5- 17,5mg/minggu dalam 8-12 minggu |
Diberikan
pada kasus lanjut dan berat. Efek samping: rentan infeksi, intoleransi GIT,
gangguan fungsi hati dan hematologik |
|
Hidroksiklorokuin |
2-4
bulan |
400
mg/hari |
Efek
samping: penurunan tajam penglihatan, mual, diare, anemia hemolitik |
|
Asatioprin |
2-4
bulan |
50-150
mg/hari |
Efek
samping: gangguan hati, gejala GIT, peningkatan TFH |
|
D-penisilamin |
3-6
bulan |
250-750mg/hari |
Efek
samping: stomatitis, proteinuria, rash |
Obat Yang Dapat Diberikan Untuk Pasien Rheumatoid
Arthritis :
- Obat antirematik (disease-modifying
antirheumatic drugs), Contoh obat ini antara lain methotrexate, leflunomide, hydroxylchloroquine, sulfasalazine, adalimumab, etanercept,
atau infliximab
- Obat antiinflamasi
nonsteroid, Contoh obat jenis ini adalah meloxicam, diclofenac dan
ibuprofen
- Obat kortikosteroid, Contoh obat ini adalah prednisone dan methylprednisolone
1. Indikasi
Indikasi penggunaan methotrexate atau metotreksat adalah untuk mengobati beberapa jenis kanker, serta mengontrol gejala psoriasis dan rheumatoid arthritis. Selain itu, methotrexate dapat menjadi pilihan untuk pengobatan mikosis fungoides, penyakit Crohn, dan kehamilan ektopik.
2. Dosis
Dosis awal 7,5-10 mg/ minggu/IV atau peroral 12,5- 17,5mg/minggu dalam 8-12 minggu.
3. Mekanisme Kerja
Methotrexate (MTX) bekerja melalui berbagai cara, tergantung pada indikasi mana yang digunakan untuk mengobatinya. Bekerja dengan sifat anti-inflamasi dan imunosupresif paling tidak dimediasi melalui penghambatan interleukin-6, interleukin-8 dan TNF-α.
Methotrexate menghambat dihidrofolat reduktase, yang dapat mengubah
dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat, yang digunakan sebagai pembawa karbon
tunggal untuk mensintesis nukleotida purin dan timidilat untuk sel DNA Proses
sintesis, perbaikan dan replikasi. Oleh karena itu, metotreksat memiliki efek
anti-metabolik sensitif pada sel-sel yang secara aktif berkembang biak,
misalnya, sel ganas, sel sumsum tulang, sel janin, sel mukosa bukal dan usus,
serta sel kandung kemih. Ketika proliferasi sel ganas di jaringan lebih besar
dari pada jaringan normal, metotreksat akan mengganggu pertumbuhan sel ganas
tersebut tanpa menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan normal.
Methotrexate
juga memiliki aktivitas imunosupresif yang kuat, meskipun mekanisme kerjanya
tidak jelas. Obat tersebut diduga dapat mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh.
Karena efek imunosupresif ini, methotrexate dapat digunakan untuk mengobati
gejala rheumatoid arthritis yang parah.
Farmakokinetik
Daya serap
Pada
orang dewasa, absorpsi metotreksat oral bergantung pada dosis. Kadar serum
puncak dicapai dalam 1-2 jam. Diberikan dosis 30 mg / m2 atau kurang,
metotreksat biasanya diserap dengan baik dan ketersediaan hayati rata-rata
sekitar 60%. Pada dosis> 80 mg / m2, absorpsi berkurang secara signifikan,
yang mungkin disebabkan oleh kejenuhan.
Distribusi
Setelah
pemberian Methotrexate intravena, distribusi awal sekitar 0,18 L / kg (18% dari
berat badan). Kemudian volume tetap distribusi metotreksat sekitar 0,4-0,8 L /
kg (40-80% berat badan). Ketika konsentrasi serum lebih besar dari 100
mikromolar, difusi pasif adalah cara utama untuk mencapai konsentrasi
intraseluler yang efektif. Methotrexate dalam serum terikat pada sekitar 50%
protein dan dapat ditransfer oleh berbagai senyawa lain termasuk sulfonamida,
salisilat, tetrasiklin, kloramfenikol dan fenitoin. Ketika diberikan secara
oral atau parenteral, metotreksat tidak dapat melewati penghalang cairan
serebrospinal dalam jumlah terapeutik. Pemberian intratekal dapat mencapai konsentrasi
obat CSF yang tinggi.
metabolisme
Setengah waktu
Waktu paruh Methotrexate dalam pengobatan psoriasis, artritis reumatoid atau obat antitumor dosis rendah <30 mg / m2 adalah 3-10 jam. Waktu paruh Methotrexate dosis tinggi bisa mencapai 8-15 jam.
Pengeluaran
Ekskresi Methotrexate terutama melalui ginjal. Dengan pemberian intravena, 80-90% dosis
obat non-metabolik akan dikeluarkan dalam waktu 24 jam. Pada saat yang sama,
ekskresi empedu hanya kurang dari 10% dari dosis.
Resistensi
Resistensi Methotrexate dalam pengobatan osteosarkoma disebabkan oleh mekanisme umum resistensi intrinsik, yaitu penggunaan frekuensi tinggi akan menyebabkan penurunan ekspresi pembawa folat tereduksi (RFC), yang mengarah pada interupsi transpor metotreksat. Pada saat yang sama, resistensi terhadap metastasis paru mungkin disebabkan oleh peningkatan dihidrofolat reduktase (DHFR), sehingga terdapat perbedaan antara tumor primer dan metastasis itu sendiri.
Efek
Samping
Efek
samping methotrexate atau metotreksat yang umum terjadi berupa intoleransi
gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, anoreksia, dan stomatitis, selain
itu dapat terdapat juga keluhan pusing, rasa kantuk atau depresi sumsum tulang.
Obat ini juga dapat meningkatkan risiko efek samping yang serius jika
berinteraksi dengan obat lain, hal ini disebabkan karena methotrexate dapat
mengubah cara kerja obat lain.
Kontraindikasi
Kontraindikasi
penggunaan methotrexate atau metotreksat adalah untuk ibu hamil, pasien
dengan penyakit liver, imunodefisiensi, hipoplasia sumsum tulang, leukopenia,
trombositopenia, serta pasien yang hipersensitivitas.
DAFTAR PUSTAKA
Ayu,K.M.
2018. Rheumatoid Arthritis. Denpasar, erepo Unud.
Fauzi,
A. 2019. Rheumatoid Arthritis. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung. Vol.
3 (1) : 167-175.
Pusat
Informasi Obat Nasional Badan POM RI. 2015. Metotreksat. BPOM RI : Jakarta
PERMASALAHAN
1. Mengapa penggunaan Methotrexate dosis tinggi menyebabkan waktu paruh obat lebih lama? Jelaskan mekanisme terjadinya




