Senin, 30 November 2020

HEMOTOLOGI (I)


HEMATOLOGI 

 Pengertian Hematologi :

Hematologi adalah bidang penelitian kesehatan yang mempelajari penyakit darah atau gangguan darah yang terjadi. Beberapa penyakit yang termasuk kedalam bidang hematologi adalah anemia,gangguan pembekuan darah,penyakit infeksi,hemofilia,dan leukimia. Dalam ilmu hematologi diketahui penyakit darah biasanya disebabkan oleh efek samping obat0obatan,kurangnya nutrisi tertentu dalam asupan makanan sehari-hari,dan cara pengobatan yang diperlukan untuk penyakit darah berbeda-beda,tergantung dari kondisi darah itu sendiri,beratnya penyakit dan penyakit yang diderita . Proses kelainan darah bervariasi dari orang ke orang mempengaruhi satu atau tiga komponen darah yaitu sel darah putih,sel darah merah,dan trombosit.


I. KOAGULASI DARAH (pembekuan darah)

        Koagulasi darah adalah proses pengubahan komponen cairan didalam darah menjadi zat semi padat yang disebut bekuan darah . Bekuan darah terutama terdiri dari sel-sel darah yang terperangkap di jaring fibrin. Fibrin yang terbentuk berasal dari fibrinogen yang terlarut dalam plasma. Perubahan fibrin pada fibrinogen disebabkan oleh adanya trombin,enzim proteolitik yang hanya bekerja saat aktif. Dalam proses ini terdapat sistem hemostatis yang berperan sebagai bekuan darah dan hemostatis yang berperan sebagaibekuan darah dan hemostatis. Ada beberapa koagulasi,yaitu proses mengubah darah dari keadaan cair menjadi bekuan darah seperti agar dan fibrinolisis untuk menjaga agar darah tetap cair. Penting juga untuk menghindari pembentukan gumpalan darah yang terlalu banyak,yang dapat menyebabkan trombosis.

Tahapan proses pembekuan darah :



  • Tahapan pertama yaitu pembentukan trombosit 
  • Tahapan kedua yaitu transformasi dari protrombin menjadi trombin
  • Tahap ketiga adalah transformasi dari fibrinogen menjadi fibrin
koagulasi melibatkan dua jalur :

  • Jalur ekkstrinstik,jalur ini diaktifkan oleh pelepasan suatu zat,enzim proliferatif. Protombin diubah menjadi trombin yang mengkatalisis pengubahan fibrinogen menjadi fibrin,kemudian membutuhkan kalsium sebagai kofaktor untuk membantu proses koagulasi dalam proses inflamasi.
  • Jalur intrinsik, Jalur ini bekerja ketika kolagen di dinding pembuluh darah muncul,jalur internal diaktifkan,dan kemudian seperti jalur eksternal,faktor koagulasi diaktifkan,dan akhirnya fibrin terbentuk.
ANTIKOAGULAN

       antikogulan adalah agen yang digunakan untuk menghambat pembentukan gumpalan darah. Obat tersebut bertindak sebagai penghambat bekuan darah dan tidak akan melarutkan bekuan yang ada. Antikoagulan digunakan pada pasien dengan penyakit arteri dan vena,membuatnya sangat mungkin membentuk gumpalan darah . contoh antikoagulan adalah heparin. Heparin merupakan zat yang berasal dari hati dan memiliki fungsi mencegah trombosis. Heparin digunakan dalam operasi jantung terbuka untuk mencegah pembekuan darah dan pasien darurat yang diderita koagulasi intravaskular difus (DIC). Fungsi utamanya adalah mencegah terjadinya trombosis vena yang dapat menyebabkan emboli paru. Heparin memperpanjang periode pembekuan darah dan memantau PTT ( waktu tromboplastin parsial ) dan PTT ( waktu tromboplastin teraktivasi ) selama pengobatan.

FARMAKODINAMIK

           Heparin digunakan pada penyakit troemboemboli akut untuk mencegah trombosis dan emboli. Heparin tidak dapat melewati penghalang plasenta. Jika diberikan secara intravena,efeknya akan cepat  mencapai puncaknya dalam beberapa menit dengan waktu kerja yang singkat. Heparin subkutan di absorbsi lebih lambat kedalam jaringan lemak melalui pembuluh darah. Pengaruh heparin pada rute pemberian adalah diberikan secara subkutan,efek awal terjadi dalam 20 - 60 menit, dan waktu ke level puncak : 2 jam, dan waktu tindakan 8-12 jam. Dalam pemberian intravena,onset kerjanya segera,waktu ke level puncak adalah 5-10 menit,dan waktu kerja adalah 2-6 jam.


PROSES PEMBEKUAN DARAH TERHENTI

         untuk mencegah pembekuan darah yang berlebihan,faktor pembekuan berhenti bekerja dan trombosit diserap oleh darah. Setelah luka membaik,benag fibrin yang terbentuk sebelumnya akan hancur dan luka tidak lagi tersumbat. Beberapa orang dengan gangguan koagulasi pasti akan mempengaruhi proses ini dari kesehatannya,seperti :

  • Fungsi koagulasi terganggu, dalam beberapa kasuss,ada beberapa orang terlahir dengan mutasi genetik,sehhingga tubuh mareka kekurangan faktor pembekuan tertentu. Ketika jumlah faktor pembekuan darah terganggu ,akibatnya pada penederita hemofilia misalya,pendarahan bisa berlangsung lebih lama dan sulit dihentikan.
  • Hiperkoagulabilitas adalah kebalikan dari koagulopati,dalam hal ini meskipun tidak ada cedera ,proses koagulasi akan terjadi secara berlebihan. Keadaan ini juga berbahaya karena penggumpalan darah dapat menyumbat arteri dan vena. Ketika pembuluh darah tersumbat,tubuh tidak dapat mengeuarkan darah beroksigen secara optimal. Ini dapat meningkatkan risiko komplikasi yang fatal seperti stroke,serangan jantung,emboli paru,dan gagal ginjal. Selama kehambilan,gumpalan darah dapat terbentuk dipembuluh darah panggul atau kaki menyebabkann komplikasi kehamilan yang serius seperti kelahiran prematur,keguguran,dan kematian ibu. Oleh karena itu, Hiperkoagubilitas merupakan penyakit yang tidak bisa dianggap remeh,untuk pendarahan yang sulit dihentikan,obat yang biasa digunakan adalah konsentrat untuk menggantikan faktor pembekuan yang berkurang dalam tubuh. Pada saat yang sama ,koagulopati biasanya dapat diobati dengan pengenceran darah.


                                                 DAFTAR PUSTAKA 

Corwin,E,J. 2009. Buku Saku Patofisiologi,EGC,Jakarta.

Kee,J.L dan E.R. Hayes.1996. Farmakologi : Pendekatan Proses Keperawatan,EGC,Jakarta.

Sabiston,D.C. 1995. Buku Ajar Bedah,EGC,jakarta.



Permasalahan :

1. Pada pasien diabetes,mengapa mekanisme koagulasi tidak bekerja ?

2. Apa Efek samping paling utama dari penggunaan heparin sebagai antikoagulan?

3. Apakah aman bagi pasien untuk mengkonsumsi antikoagulan seumur hidup?


ANTIHISTAMIN (II)

 ANTIHISTAMIN II : Turunan Propilamin dan Fenotiazin

A. Propilamin
     Ada beberapa jenis obat anti histamin dari antagonis H1 turunan dari propilamin yaitu Chlorpheniramine Maleat yaitu obat yang banyak digunakan untuk mengatasi dari interaksi alergi dengan proses farmakodinamik dan farmakokinetiknya yaitu :

Chlorpheniramine Maleat ( CTM)

a. Farmakodinamik 
         Mekanisme kerja chlorpheniramine sebagai antagonis H1 adalah berkompetisi dengan aksi dari histamin endogenus, untuk menduduki reseptor-reseptor normal H1 pada sel-sel efektor di traktus gastrointestinal,pembuluh darah,traktus respiratorius,dan beberapa otot lainnya. Efek antagonis terhadap histamin ini akan menyebabkan berkurangnya gejala bersin,mata gatal dan berair,serta pilek pada pasien.

Chlorpheniramine maleat memiliki efek antikolinergik,dan sedatif ringan. Diyakini bahwa mekanisme antihistamin obat juga memiliki efek antiemetik,anti mabuk perjalanan dan anti vertigo, yang terkait dengan efek obat pada antikolinergik sentral. Obat antagonis H1 klasik, dapat merangsang dan menghambat sistem saraf pusat penggunaan klorfeniramin secara topikal dapat merdakan gatal.

b. Farmakokinetik
1. Absorbsi
Dosis obat : utuk dewasa per oral tablet 4 mg, tiap 4-6 jam. Dosis dewasa tablet lepas lambat adalah 8-16 mg, tiap 8-12 jam bila perlu. Dosis maksimum adalah 32 mg per hari.

Bioavailabilitas : akan diserap dengan baik setelah pemberin oral,tetapi hanya 25-45% (tablet konvensional) ataupun 35-60% (larutan) dari dosis tunggal yang mencapai sirkulasi sistemik sebagai obat tidak berubah.

Konsentrasi plasma puncak : umumnya terjadi dalam waktu 2-6 jam setelah pemberian tablet oral konvensional atau larutan oral.

Durasi : biasanya efek antihistamin dapat bertahan sekitar 24 jam

Onset : efek antihistamin jelas dalam waktu 6 jam setelah dosis tunggal

2. Distribusi
Terjadi dijaringan dan cairan tubuh. Konsentrasi tertinngi terdapat pada paru,jantung,ginjal,dan usus halus. Sedangkan konsentrasi terendah terdapat terdapat pada usus besar dan lambung,bila digunakan secara intravena,distribusi obat pada orang dewasa stabil pada kisaran 2,5 - 3,2 L/kg, sedangkan 3,8 L/ kg anak-anak. Pengikatan protein plasma sekitar 69-72 %.

3. Metabolisme
Selama penyerapan melalui hati dan efek lintasan pertama,sejumlah besar metabolisme terjadi di mukosa saluran cerna. Dalam metabolisme yang cepat dan ekstensif, itu terutama dipecah menjadi setidaknya 2 metabolit, yaitu mono-desmethyl chlorpheniramine dan didesmethyl chlorpheniramine.

4. Eksreksi
CTM diekresikan melalui ginjal dalam bentuk urin. waktu paruh eliminasi terminal adalah sekitar 12-43 jam,dan anak-anak biasanya 9,6 - 13,1 jam.

B. Turunan Fenotiazin 
          Fenotiazin adalah golongan antipsikoptik,antagonis dopamin,yang dapat memusatkan efeknya dengan menghambat area pemicu kemoreseptor. Obat ini digunakan untuk mencegah dan mengobati mual dan muntah akibat pembentukan tumor,radioterapi,oploid,anestesi umum,dan obat sitotoksik. Proklorperazin,perphenazine,dan trifluoperazine kurang sedatif dibandingkan klorpromazin. Fenotiazin terkadang memiliki reaksi distonia yang parah,terutama pada anak-anak. Antikospik lain termasuk haloperidol dan levpromazine juga digunakan untuk meredakan gejala mual, ada beberapa supositoria fenotiazin yang mungkin bermanfaat bagi pasien dengan muntah terus-menerus atau mual parah. Antihistaamin golongan ini antara lain :
  1. prometazin
  2. oksomemazin
  3. tiazinamidum
  4. metdilazin
Struktur antagonis H1 turunan Fenotiazin :
Promethazine adalah antihistamin H1 dengan aktivitas sedang dan masa pakai lama. Mequinazine adalah antagonis H1 yang kuat dengan masa pakai yang lama dan biasanya digunakan untuk mengobati gejala alergi. Dan Pyrazotifen hydrogen fumarate,biasanya sering digunakan sebagai penambah nafsu makan

Farmakokinetik
      Kebanyakan antipsikoptik diserap dengan segera tetapi tidak sepenuhnya. Selain itu secara signifikan mengalami metabolisme lintasan pertama. Kebanyakan antipsikoptik larut dalam lemak dan terikat protein. Ini mengakibatkan durasi efek dalam plasma menjadi 8 kali lebih lama dari yang diharapkan. Kelompok tipikal bekerja pada reseptor dopamin 2 (D2) di otak. Tiga sampai enam bulan setelah injeksi terakhir,penggunaan LAI dapat menyebabkan berbagai blokade reseptor D2. Antipsikoptik hampir sepenuhnya teroksidasi atau didemetilasi oleh enzim sitokrom P450 mikrosom hati dan dimetabolisme oleh katalase. Metabolit diekskresikan melalui ginjal dalam urin.

 

                                                           Daftra Pustaka

Cartika,H. 2016. kimia Farmasi. Pusdik SDM kesehatan,Jakarta.

Katzung,B. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10.  Salemba Medika,Jakarta.

Siswandono. 2016. Kimia Medisinal 2 Edisi 2. Universitas Airlangga,Surabaya.



Permasalahan :

1. Bagaimana penggunaan yang benar mengkonsumsi obat fenotiazin ?
2.  Apa efek samping jika terjadi pengunan fenotiazin yang tidak sesuai dengan dosis seharusnya ?
3. Apakah etilendiamin,kolamin,propilamin memiliki mekanisme kerja yang sama karena satu golongan antihistamin H1?



Sabtu, 21 November 2020

ANTIHISTAMIN (I)

                                                                  ANTIHISTAMIN

Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada reseptor H1,H2,dan H3. Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Zat histamin berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan memblok reseptor histamin.

Berikut Struktur senyawa antihistamin :


Adapun jenis-jenis obat histamin dari perbedaan generasi yaitu :

 Generasi 1   
 Antihistamin generasi pertama ini mudah didapat,baik dalam  sebagai obat tunggal ataupun dalam bentukkombinasi dengan obat dekongestan. Misalnya untuk dalam pengobatan influensa terdapat obat seperti :

  • Klorfeniramine
  • Difenhidramine
  • Prometazin
  • Hidroksisin
Pada umumnya obat antihistamin generasi pertama mempunyai efektifitas yang serupa bila digunakan sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan dapat dibedakan dengan gambaran efek samping nya. Efek yang dapat ditimbulkan dari obat ini adalah rasa mengantuk sehingga dapat menganggu aktifitas,efek sedatif ini diakibatkan oleh antihistamin genrasi pertama memiliki sifat lipofilik yang dapat menembus sawar darah otak sehingga dapat menempel pada reseptor H1 di sel-sel otak. Disamping itu beberapa histamin mempunyai efek samping seperti mulut menjadi kering,penglihatan berkabut,dan retensi urin.

Generasi 2

Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti genrasi pertama,memiliki sifat lipofilik yang lebih rendah sulit menembus sawar darah otak. Obat antihistamin generasi kedua yaitu :

  • Astemizol ( Hismanal )
  • Loratidin ( Claritin )
  • Cetirizin ( Ryzen )
  • Fexofenadine
  • Terfenadin
Obat antistamin genrasi kedua ditoleransi sangat baik untuk dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk meringankan gejala alergi sepanjang hari,terutama untuk penderita alergi yang tergantung pada musim. Obat ini juga bisa digunakan untuk pengobatan jangka panjang pada penyakit kronis sepertiasma bronkial,

Generasi 3

Obat-obat yang termasuk antihistamin generasi ketiga yaitu :

  • Feksofenadin
  • Norastemizole
  • Deskarboetoksi loratadin (DCL)
Antihistamin generasi tiga bertujuan untuk menyederhanakan farmakokinetik dan metabolisme serta menghindari efek samping yang berkaitan dengan obat sebelumnya.


Berdasarkan Hambatan pada reseptor antihistamin dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :

  1. Antagonis H1
  2. Antagonis H2
  3. Antagonis H3
Antagonis H1 atau antihistamin dibagi menjadi 3 yaitu :

  • generasi 1 : Etanolamin,Alkilamin,Piperaziin,Etilendiamin ,dan Fenotiazin. Obat-obat pada generasi ini dapat menembus sawar darah otak dan bersifat sedatif dan antimuskarinik
  • generasi 2 : Piperidin,Alkilamin,Piperazin. Obat-obat tersebut tidak dapat menembus sawar darah otak dan non sedatif
  • generasi 3 : Desloratidin,Feksofenadin,dan Levocetirizin.
Mekanisme kerja dari antagonis H1 yaitu mengantagonis H1 secara kompetitif dan reversibel,tetapi tidak memblok pelepasan histamin. Sering digunakan untuk mengobati gejala-gejala akibat reaksi alergi.

Antagonis H2

Antagonis H2 dapat mengontrol asam lambung secara fisiologis dan lebih hidrofilik dari H1 dan mencapai SSP. Mekanisme kerja dari antagonis H2 yaitu dengan cara :

  • Menghambat interaksi histamin dengan reseptor H2 
  • mengurangi sekresi asam lambung,histamin ,gastrin,kolinomimeik (AINS),rangsangan vagal.
  • mengurangi sekresi asam nokturnal dan basal
  • mengurangi volume cairan lambung dan ion H+
Digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobatan penderita pada tukak lambung serta dapat dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer, Contoh obatnya yaitu :

  • simetidina
  • famotidina
  • ranitidina
  • nizatidina
  • roxatidina
  • lafutidina
Antagonis H3

Antagonis H3 ini sampai sekarang masih belum digunakan untuk pengobatan,masih dalm penelitian lebih lanjut dan kemungkinan berguna dalam pengaturan kardiovaskuler,pengobatan alergi dan kelainan mental. Adapun contoh obat dari Antagonis H3 yaitu :

  • Ciproxifan
  • Cleobenpropit   
FARMAKOKINETIK
Antagonis H1 biasanya terserap dengan baik disaluran pencernaan. Setelah pemberian oral,kadar plasma plasma mencapai puncaknya dalam 2-3 jam, dan efeknya berlangsung selama 4-6 jam. Namun berapa obat bertahan lebih lama,seperti clemastine,cetirizine,terbenadine (12-24 jam),dan astemizol 24 jam. Penelitian mendalam tentang obat generasi pertama masih terbatas. Konsentrasi tertinngi diphenhydramine oral dalam darah adalah sekitar 2 jam, dan waktu paruh adalah 4 jam. Obat ini didistribusikan secara luas,termasuk di sitem saraf pusat,dan ditemukan dalam jumlah kecil di urin sebagai metabolit. Penghapusan obat ini pada anak-anak berlangsung cepat dan dapat menyebabkan enzim mikrosom hati. Ini juga tampaknya sama dengan obat generasi pertama lainnya.

INDIKASI KLINIK
Penggunaan antihistamin dapat diberikan pada pasien dengan gejala atau indikasi media sebagai berikut :
1. Reaksi Alergi
2. Antiemetik
3. Motion Sickness
4. Anestesi Lokal

Pertanyaan :

 

1. Apa perbedaan dari Antihistamin generasi 1 dengan generasi 2 ?

 

2. Bagaimana cara kerja Antihistamin ?

 

3. Pengelompokan Antagonis H1,H2,dan H3 berdasarkan apa ?



                                                            Daftar Pustaka
 
Ganiswara SG.1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Hal.103.Bagian Farmakologi FKUI,Jakarta.

Lisni,I.,A,Anggriani dan R,Puspitasari.2020. Kajian Peresepan Obat Antihistamin Pada Pasien Rawat Jalan Di Salah Satu Rumah Sakit Di Bandung. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia. Vol 2(2).

Sari,F.,Yenny,SW.2018.Antihistamin Terbaru Dibidang Dermatologi. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol.7.



RHEUMATOID ARTHRITIS

  Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyebab paling umum dari peradangan sendi kronis. RA adalah penyakit inflamasi autoimun kronis, progresi...